Saturday, October 12, 2013

Gunung Sebagai Pasak Bumi

Gunung Sebagai Pasak
Hebatnya ciptaan Allah s.w.t tidak tergambar diakal fikiran tanpa renungan yang bersungguh-sungguh. Bagaimana Allah mencipta segala macam benda yang unik dan tidak sia-sia. Jika diperhatikan sebuah gunung yang tinggi, adakah terfikir 1400 tahun yang lampau ia mempunyai fungsi tersendiri? Siapa terfikir bahawa struktur bawah gunung tersebut sama dalamnya sebagaimana tinggi gunung tersebut?
Namun, hal ini telah diceritakan secara jelas dalam al Quran.
Image
Bukankah Kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan. Dan gunung-gunung sebagai pasak?. (Surah an-Naba; 6-7)
Al-Quran dengan bahasanya yang tinggi, menegaskan bahawa gunung-ganang adalah sebagai pasak bumi. Hal ini tidak diubah oleh ulama-ulama biarpun mungkin pada zaman mereka, mereka belum menemui bukti sebenar gunung ini sememangnya dipasak?
Maha Suci Allah, yang telah menjadikan bumi ini sebagai suatu hamparan dan gunung-ganang sebagai pasak bumi. Ia juga berfungsi untuk menghalang gegaran seperti ayat berikut:
Dan Kami telah menjadikan di bumi gunung-ganang yang menetapnya, supaya bumi itu tidak menggegar mereka; dan Kami jadikan padanya celah-celah sebagai jalan-jalan lalu-lalang, supaya mereka dapat sampai kepada mencapai keperluan rohani dan jasmani. (Al Anbiya’ 21:33)
Pada kajian sains, dengan izin Allah, mereka telah menemui fungsi gunung bolehlah diterjemahkan sebagai paku-paku yang mencantumkan 2 keping papan bagi mengelakkan papan tadi bergoyang, dan ia lebih kukuh dengan paku tadi. Sesuai dengan bahasa ‘pasak’ dalam al Quran. Subhanallah.
Dalam surah Luqman juga, Allah telah menyebutkan tentang perkara yang sama sebagaimana ayat berikut:
dan Dia menciptakan gunung-gunung di muka bumi supaya tidak bergoyang bersama kamu (Surah Luqman: ayat 10)
Gunung ganang dalam erti kata lain, mengenggam lapisan pada kerak bumi bersama-sama melalui satu ‘pancang’ yang memanjang dari atas ke bawah permukaan bumi sekaligus menghubungkan semua lapisan-lapisan di dalam bumi ini. Melalui cara ini, ianya menetapkan kedudukan kerak bumi dan menghalangnya daripada terapung di atas batuan magma atau terapung bersama-sama dengan lapisan lain. Secara ringkas, analogi ini mirip seperti keadaan apabila kita memakukan cantuman kepingan kayu bersama-sama.
Pergerakan gunung
Rasulullah s.a.w telah membacakan ayat di bawah:
Dan kamu melihat gunung-gunung itu, kamu menyangka ianya tetap di tempatnya, padahal ia bergerak seperti geraknya awan.(Surah an-Naml: ayat 88).
Lalu terdapat sahabat yang cuba memerhatikan keadaan gunung. Setelah lama diperhatikan, tidak sedikit pun kelihatan bergerak. Apa sahabat tersebut kata?
“Sudah tentu mataku yang silap, dan apa yang Rasulullah cakap itu adalah benar”
Ini iman sahabat. Yakin dengan perkataan al Amin, Rasulullah s.a.w yang terkenal dengan jujur dan benar tutur kata.
Namun sekarang, ia telah terbukti benar.
Pergerakan gunung-ganang ini adalah disebabkan oleh gerakan dalam kerak bumi di mana ia terletak. Kerak bumi ‘terapung’ di atas lapisan mantel, yang lebih padat. Pada awal kurun ke 20, pertama kali dalam sejarah apabila seorang saintis jerman bermana Alfred Wegener mengemukakan bahawa benua-benua bumi sebenarnya bergabung bersama ketika ia terbentuk pertama kali, tetapi kemudian hanyut dalam arah yang berbeza-beza, dan akhirnya terpisah ketika bergerak menjauhi antara satu sama lain.
Pakar geologi baru hari ini menyedari bahawa Wegener sebenarnya adalah benar ketika mengemukakan fakta ini pada tahun 1980 an, 50 tahun selepas kematiannya. Seperti yang dinyatakan oleh Wegener dalam artikel yang diterbitkan pada tahun 1915, daratan bumi terbentuk dalam satu gugusan daratan 500 juta tahun lalu, dan daratan besar ini yang dipanggil Pangaea, terletak di kutub selatan.
Melalui anggaran, 80 juta tahun lalu, Pangaea terbahagi kepada dua bahagian yang hanyut dalam arah yang berbeza. Satu dari benua gergasi ini ialah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Bahagian yang satu lagi dipanggil Laurasia yang meliputi Eropah, Amerika utara dan Asia kecuali India. Lebih dari 150 juta tahun selepas pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia berpecah kepada bahagian yang lebih kecil.
Semua benua ini yang timbul selepas penghayutan dataran Pangaea, bergerak secara konstan di permukaan bumi pada kadar beberapa sentimeter setahun, pada masa yang sama menyebabkan perubahan keseimbangan laut dan darat di bumi.
Ditemui sebagai satu hasil kajian geologikal yang dijalankan pada awal abad ke 20, pergerakan kerak bumi ini dijelaskan oleh saintis sebagai berikut;
Kerak dan bahagian atas mantel, dengan ketebalan hampir 100 kilometer, terbahagi kepada beberapa segmen dipanggil daratan. Terdapat enam daratan besar dan beberapa daratan kecil. Berdasarkan kepada teori dipangil ‘tektonik daratan’, daratan ini bergerak berpusing permukaan bumi, dengan membawa benua-benua dan lantai lautan bersamanya.pergerakan benua telah disukat pada kadar 1-5 sentimeter per tahun. Pergerakan daratan yang berterusan ini akan mengubah sedikit demi sedikit kedudukan geografi dunia. Setiap tahun, sebagai contoh, lautan Atlantik menjadi sedikit lebih luas.
Di sana harus dinyatakan beberapa fakta penting; Tuhan merujuk pergerakan gunung-ganang sebagai satu gerakan ‘penghanyutan’ dalam ayat tersebut. Hari ini, saintis moden juga menggunakan istilah “hanyutan benua’ untuk fenomena ini.
Suatu yang tidak diragui ialah satu dari keajaiban Al-Qur’an ialah fakta saintifik ini yang baru diketahui baru-baru ini melalui bidang sains, telah pun dikhabarkan dalam Al-Qur’an.

Hakikat Geografi


HAKIKAT GEOGRAFI

A. Ruang Lingkup Geografi
1. Pengertian dan Batasan Geografi
Menurut seorang ilmuwan kuno yang bernama “Eratosthenes” Geografi berasal dari bahasa Yunani “Geographia” yang terdiri dari dua kata, yaitu geo, yang berarti bumi dan graphien, artinya mencitra. Dari asal usul kata ini dapatlah dikatakan bahwa Geografi berarti ilmu pengetahuan yang mencitrakan atau menggambarkan keadaan bumi.
Pengertian tersebut masih bersifat umum dan belum memberikan gambaran yang tepat tentang arah dan tekanan dalam kajian geografi. Memang suatu definisi selalu bersifat “membatasi”. Defisnisi yang satu berbeda dari yang lain. Perbedaan itu disebabkan oleh waktu, sudut pandang dan sisi penekanan.

Beberapa batasan geografi :
a. Menurut “Ullman” (1954)
Dalam bukunya yang berjudul “Geography, A Spatial Interaction” Geografi adalah interaksi antar –ruang.
b. Menurut “E.A. Ackerman” (1963)
Geografi adalah suatu pengertian tentang sistem yang berinteraksi cepat yang mencakup semua budaya manusia dan lingkungan alamiahnya di permukaan bumi.
c. Menurut “E.J.Taaffe” (1970)
Geografi berkepentingan memberikan kepada manusia deskripsi yang teratur tentang bumi. Penekanan mutakhir diutamakan pada geografi sebagai studi mengenai organisasi keruangan yang dinyatakan sebagai pola-pola dan proses-proses.
d. Menurut “Abler” (1971)
Dalam bukunya “Spatial Organization the Geographer’s View of the World” mengatakan bahwa Geografi mengkaji struktur dan proses fenomena dan permasalahan dalam ruang. Berkaitan dengan itu, geografi selalu berbicara dengan peta untuk mengkaji struktur keruangan suatu permasalahan.
e. Menurut “Prof Drs. R. Bintarto”
Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menceritakan, menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisa, gejala-gejala alam dan penduduk serta mempelajari corak yang khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.

Dari berbagai batasan geografi tersebut di atas, tampaklah adanya penekanan pada salah satu aspek tertentu. Aspek-aspek penekanan itu tercermin dalam istilah atau kata-kata kunci yang digunakan, seperti : interaksi, manusia dan organisasinya, struktur dan permasalahan, fenomena geosfer, kewilayahan, kelingkungan dan keruangan.

Perlu diperhatikan bahwa studi geografi tidak hanya sekedar mencari persamaan dan perbedaan sesuatu dalam ruang, tetapi lebih dari itu, geografi juga mencoba mengkaji proses terjadinya sesuatu itu. Dengan demikian geografi akan mampu menjawab pertanyaan apa, dimana, mengapa, suatu gejala terjadi, serta bagaimana memecahkan permasalahan yang ada.
2. Ruang Lingkup dan Ilmu Penunjang Geografi
a. Ruang Lingkup Geografi
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, geografi mempunyai ruang lingkup dan ilmu-ilmu lain yang mendukungnya. Studi geografi meliputi gejala alam atau fisis dan gejala insani atau sosial. Oleh karena itu, secara garis besar geografi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1) Geografi fisis (Physical geography)
Geografi fisis mempelajari aspek-aspek fisik, misalnya batuan, mineral, relief muka bumi, cuaca dan iklim, air, tumbuhan, serta hewann dan sebagainya.
2) Geografi manusia (human geography)
Geografi sosial mempelajari aspek-aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya dan sebagainya.

Geografi dapat dipelajari melalui dua pendekatan.
a) Pendekatan geografi regional (regional geography), karena bumi dibagi-bagi ke dalam beberapa wilayah (region). Tiap wilayah mempunyai karakteristik yang spesifik.
b) Pendekatan topikal (topical geography), karena geografi mulai dengan kebudayaan dan sub topik-subtopiknya, seperti bahasa dan religi, serta mengkaji variasi keruangan seluruh permukaan bumi.
Mempelajari geografi juga harus berhubungan dengan disiplin ilmu lain. Hubungan itu bersifat timbal balik secara intensif.

Pada gambar tersebut di atas dapat dilihat hubungan erat geografi dengan berbagai disiplin ilmu lain. Dapat dilihat pula bahwa interaksi geografi dengan ilmu-ilmu lain melahirkan disiplin ilmu baru yang merupakan cabang tersendiri.
Misalnya,
1) Interaksi antara geografi dengan ilmu politik menumbuhkan geografi politik.
2) Interaksi antara geografi dengan geologi menumbuhkan geomorfologi
3) Interaksi antara geografi dengan biologi menumbuhkan biogeografi.

Jika bumi dipandang dari segi teori lingkungan hidup, permukaan bumi dapat dikelompokkan menjadi tiga lingkungan, yaitu :

a) Lingkungan fisikal (phisical environment) atau abiotik adalah segala sesuatu di sekitar manusia yang berupa makhluk tak hidup, misalnya tanah, udara, air dan sinar matahari.
b) Lingkungan biologis (biological environment) atau biotik adalah segala sesuatu di sekitar manusia yang berupa makhluk hidup, termasuk di dalamnya adalah manusia.
c) Lingkungan sosial (social environment) adalah segala sesuatu di sekitar manusia yang berwujud tindakan atau aktivitas manusia baik dalam berhubungan dengan lingkungan alam maupun hubungan antarmanusia.
Ketiga lingkungan itu dapat diilustrasikan seperti gambar di bawah ini.

Berkaitan dengan teori lingkungan, “William Kirk” telah menyusun struktur lingkungan geografi yang digolongkan menjadi lingkungan fisikal dan lingkungan nonfisikal. Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagan 1.1.
Berkaitan dengan teori lingkungan, “William Kirk” telah menyusun struktur lingkungan geografi yang digolongkan menjadi lingkungan fisikal dan lingkungan nonfisikal. Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagan 1.1.

b. Ilmu Penunjang Geografi
Beberapa disiplin ilmu yang sangat erat kaitannya dengan geografi atau yang merupakan cabang-cabang dari geografi
1) Astronomi adalah pengetahuan yang mempelajari benda-benda langit di luar atmosfer.
2) Geologi adalah pengetahuan yang mempelajari lapisan-lapisan batuan yang ada di dalam kulit bumi, perubahan-perubahan bentuk permukaan bumi, serta sejarah perkembangan bumi dan makhluk hidup yang pernah hidup baik di dalam maupun di atas permukaan bumi.
3) Geomorfologi adalah pengetahuan yang mempelajari bentuk-bentuk permukaan bumi yang terjadi karena kekuatan-kekuatan yang bekerja di dalam maupun di atas permukaan bumi.
4) Geofisika adalah pengetahuan yang mempelajari tentang sifat-sifat fisika bumi, seperti gaya berat dan gejala-gejala magnetik.
5) Hidrologi adalah pengetahuan yang mempelajari air tanah, air permukaan dan air di udara.
6) Meteorologi adalah pengetahuan yang mempelajari tentang cuaca.
7) Klimatologi adalah pengetahuan yang mempelajari tentang iklim.
8) Oseanografi adalah ilmu yang mempelajari lautan, misalnya sifat aiar laut, pasang surut, arus, kedalaman dan sebagainya.
9) Biogeografi adalah studi tentang penyebaran makhluk hidup secara geografis di muka bumi ini.
10) Paleontologi adalah ilmu tentang fosil-fosil serta bentuk-bentuk kehidupan masa pra sejarah yang terdapat di bawah lapisan-lapisan bumi.
11) Antropogeografi adalah ilmu yang mempelajari penyebaran bangsa-bangsa di muka bumi dilihat dari sudut geografis.
B. Obyek Studi Geografi
1. Obyek material geografi
Merupakan sasaran atau isi suatu kajian. Berdasarkan hasil Semlok Geografi di Semarang tahun 1988 dapat dikatakan bahwa obyek studi geografi adalah lapisan-lapisan bumi, atau tepatnya fenomena geosfer.
Fenomena geosfer inilah yang merupakan obyek material (obyek kajian) geografi dan ilmu-ilmu penunjang lainnya.




Geosfer atau lapisan-lapisan bumi itu luas sekali, meliputi :
a. Litosfer (lapisan batuan)
Kajian litosfer antara lain tentang bentuk-bentuk permukaan bumi, proses-proses yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk permukaan bumi, pengorganisasian wilayah di daratan, perairan dan di udara.

b. Hidrosfer (lapisan air)
Kajian ini meliputi jumlah, mutu, persebaran dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan air.
c. Atmosfer (lapisan udara)
Kajian atmosfer meliputi cuaca dan iklim atau lapisan udara yang menyelimuti bumi.
d. Biosfer (kahidupan)
Kajian ini meliputi sejarah, pertumbuhan dan persebaran kehidupan.
e. Antroposfer (manusia dan hubungannya dengan lingkungan alam)
Kajian antroposfer meliputi jumlah dan persebaran serta bentuk-bentuk hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya.

2. Obyek formal geografi
Obyek ini bersangkut paut dengan cara pemecahan masalah. Dalam menganalisis suatu masalah, geografi menawarkan sejumlah alternatif pemecahan dengan menggunakan metode atau pendekatan tersendiri. Jadi obyek formal adalah metode atau pendekatan yang digunakan dalam mengkaji suatu masalah. Metode atau pendekatan obyek formal geografi meliputi beberapa aspek pendekatan, yakni:

a. Pendekatan keruangan (spatial)
Pendekatan keruangan merupakan pendekatan khas geografi dengan mengkaji variasi fenomena alam di permukaan bumi. Pendekatan keruangan mengacu pada penelaahan perbedaan tempat melalui prinsip-prinsip geografi yaitu persebaran, timbal balik, dan pergambaran.

b. Pendekatan kelingkungan (ekologi)
Pendekatan lingkungan dalam geografi berkenaan dengan hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan fisiknya. Interaksi tersebut membentuk sistem keruangan yang dikenal dengan ekosistem. Oleh karena itu untuk mempelajari ekologi seseorang harus mempelajari organisme hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungannya seperti litosfer, hidrosfer dan atmosfer.

c. Pendekatan komplek kewilayahan (teritorial)
Pendekatan kompleks kewilayahan, merupakan kombinasi pendekatan keruangan dan ekologi. Pendekatan ini mengkaji karakteristik fisik maupun sosial dari fenomena yang terjadi di permukaan bumi yang berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Oleh karena itu pendekatan ini lebih ditekankan pada pendekatan wilayah.

Perlu diperhatikan bahwa dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, geografi fisik dan geografi manusia tak dapat dipisahkan. Bahkan masing-masing cabang geografi saling membutuhkan dan saling melengkapi. Oleh karena itu, kajian geografi akan menyimpang dari tujuannya apanila tidak terjadi “konsep penyatuan” dalam mengkaji permasalahan (Bintarto dan Surastopo, 1979).
C. Prinsip-Prinsip Geografi
Untuk menganalisis dan mengungkapkan gejala geosfer dalam kehidupan sehari-hari, secara teoritis digunakan prinsip-prinsip dasar geografi. Apabila diamati dan dianalisis gejal geografi dalam kehidupan sehari-hari,maka ahli geografi harus selalu berpegang pada empat prinsip berikut.

1. Prinsip Persebaran
Fenomena geosfer baik alam maupun manusia tersebar di permukaan bumi. Persebaran fenomena ini tidak merata dari suatu wilayah ke wilayah lainnya. Dengan mengkaji dan menggambarkan persebaran berbagai fenomena geosfer, kita dapat mengungkapkan hubungan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya. Selanjutnya, kita dapat juga meramalkan apa yang akan terjadi kemudian. Misalnya, fenomena Gempa Bumi Tsunami. Melalui pengamatan persebaran daerah gempa, dapat segera dilakukan antisipasi agar bisa diminimalisir jatuhnya korban bila terjadi peristiwa yang sama.

2. Prinsip Interelasi
Fenomena geosfer dalam suatu ruang mempunyai hubungan satu sama lain. Setelah melihat persebaran fenomena geosfer dalam ruang, selanjutnya dapat diungkapkan hubungannya satu sama lain. Melalui prinsip timbal balik, dapat diungkapkan hubungan faktor alam dengan faktor manusia atau sebaliknya. Dari hubungan tersebut akan tergambar karakteristik gejala alam di wilayah itu. Misalnya, fenomena gempa bumi tsunami. Dengan menggunakan prinsip timbal balik, dapat dicari bagaimana gempa bumi tsunami dapat terjadi, adakah faktor alam dan faktor manusia yang mempengaruhinya.

3. Prinsip Korologi
Merupakan prinsip geografi yang komprenhensif dengan memadukan prinsip-prinsip lainnya. Prinsip ini merupakan ciri dari geografi modern. Pada prinsip korologi, fenomena ditinjau dari persebaran dan hubungan timbal balik di dalam ruang. Miasalnya, dalam mengkaji gempa bumi tsunami selalu diperhatikan persebarannya dalam ruang, hubungannya dengan faktor penyebab terjadinya gempa bumi tsunami dan seterusnya. Dengan demikian kita akan mampu menjelaskan karakteristik gempa bumi tsunami tersebut.

4. Prinsip Penggambaran
Prinsip ini menjelaskan fenomena geosfer sebagai sebab akibat dari interaksi fenomena yang ada di dalamnya. Prinsip ini akan memberikan gambaran lebih lanjut tentang fenomena atau masalah yang terjadi. Penggambaran dilakukan bukan hanya dengan kata-kata , tetapi juga dengan menggunakan peta, diagram, grafik dan tabel.
Misalnya, peristiwa gempa bumi tsunami. Prinsip ini akan menguraikan sebab dan akibat dari peristiwa gempa bumi tsunami. Selain itu, dengan menggunakan peta dapat digambarkan daerah persebaran gempa bumi tsunami.

Dalam pelaksanaannya, prinsip-prinsip di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Prinsip-prinsip tersebut diungkapkan berdasarkan konsep-konsep geografi..
Sepuluh konsep Esensial Geografi dan contoh penerapannya dalam pengajaran Geografi.

a. Lokasi
1) Lokasi absolut
Adalah letak atau lokasi suatu gejala yang bersifat mutlak / tetap dan dapat diketahui berdasarkan perhitungan astronomis dengan penggunaan garis lintang dan bujur.
2) Lokasi relatif, adalah lokasi yang banyak dikaji dari sudut pandang letak geografis suatu wilayah dari wilayah lainnya berdasarkan arti pentingnya bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain lokasi relatif memandang suatu wilayah yang strategis atau tidak bagi kehidupan manusia. Di daerah panas orang umumnya berpakaian dari bahan yang mudah menyerap keringat.

b. Jarak
Jarak tidak hanya dapat dinyatakan dengan ukuran jarak lurus di udara yang mudah diukur pada peta, tapi juga dapat dinyatakan dengan jarak tempuh dalam satuan jam (waktu) maupun satuan biaya angkutan.

c. Keterjangkauan (accessibility)
Konsep ini lebih mengarah pada kondisi medan atau ada tidaknya sarana transportasi dan telekominikasi. Suatu tempat dikatakan dalam kondisi terasing atau terisolasi manakala di tempat tersebut tidak terdapat alat transportasi maupun komunikasi yang memadai. ada jalan atau sarana penghubunglainnya.

d. Pola
Konsep ini berkaitan dengan susunan bentuk atau persebaran fenomena dalam ruang di permukaan bumi, baik fenomena alam (sungai, persebaran, vegetasi, jenis tanah, curah hujan) maupun fenomena sosial (pemukiman, persebaran penduduk, pendapatan, mata pencaharian dan sebagainya).

e. Morfologi
Menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkatan atau penurunan wilayah yang lazimnya disertai erosi, sedimentasi hingga ada yang berbentuk pulau, daratan luas, pegunungan, lembah, daratan alluvial.

f. Aglomerasi
Masyarakat atau penduduk cenderung mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit yang paling menguntungkan , baik kesejenisan gejala maupun adanya faktor-faktor umum. Agolmerasi sering terjadi di wilayah kota yang merupakan pemukiman elite atau di pedesaan yang memiliki tanah yang sangat subur dengan cukup air maupun areal pertambangan strategis.

g. Nilai kegunaan
Daerah wisata mempunyai nilai yang berbeda bagi setiap orang/individu. Ada orang yang sering mengunjungi, ada yang kadang-kadang dan ada pula yang tidak pernah mengunjungi sama sekali.
h. Interaksi/Interdependensi
Gerakan perpindahan orang, barang atau gagasan dari suatu tempat ketempat lainnya, misalnya :
1) Gerakan penduduk dari daerah padat ke daerah jarang.
2) Gerakan berita (informasi) melalui media massa

i. Diferensiasi Areal
Fenomena yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lain, misalnya :
1) jarak jauh, sedang dan dekat dari jalan
2) harga tanah (rumah) yang mahal, sedang dan murah
3) perumahan yang padat, sedang dan jarang

j. Keterkaitan keruangan
Kekhususan suatu wilayah dalam hal hasil, misalnya, bisa mendorong berbagai bentuk kerjasama dalam saling tukar menukar jasa dengan wilayah lain. Jadi perbedaan wilayah dapat mendorong interaksi yang berupa pertukaran manusianya, barangnya atau budayanya. Karena itu lokasi yang sentral membawa banyak kemajuan, sebaliknya lokasi yang periferis mengakibatkan terjadinya isolasi yakni keterpencilan dan kemunduran.


Wednesday, October 2, 2013

ICT dan Kelestarian Penggunaanya dalam PdP Geografi di Sekolah


ABSTRAK 
ICT (Teknologi Maklumat dan Komunikasi) dan penggunaannya dalam proses pengajaran dan 
pembelajaran geografi kini semakin mendapat sambutan dalam kalangan pendidik bagi 
mewujudkan persekitaran pembelajaran realistik maya yang interaktif dan menyeronokkan. Ini 
disebabkan ICT boleh membantu pelajar dalam pembinaan daya kreativiti dan inovasi di samping 
dapat memupuk kecekapan penggunaan teknologi dalam mengakses maklumat daripada pelbagai 
sumber yang sejajar dengan perkembangan global berasaskan e-pembelajaran dan k-ekonomi. 
Antara penggunaan pendekatan ICT dalam proses pengajaran pembelajaran geografi terdiri 
daripada pembelajaran tutorial, penerokaan, aplikasi dan komunikasi. Penggunaan ICT dalam 
proses pengajaran pembelajaran berlaku bukan hanya setakat di dalam bilik darjah semata-mata, 
tetapi juga merentasi di luar bilik darjah sehingga ke peringkat global. Transformasi maklumat 
boleh dilakukan dari satu hala menjadi dua hala atau lebih. Dengan ini suasana pengajaran 
pembelajaran menjadi lebih menarik melalui penggunaan interaktiviti elemen ICT seperti teks, 
audio, video, grafik dan animasi yang melibatkan sensori manusia. Sehingga kini pelajar tidak 
digalakkan menghafal fakta geografi tetapi amat digalakkan untuk meningkatkan tahap 
kemahiran befikir dan berkomunikasi bagi menyelesaikan masalah dan seterusnya membuat 
keputusan. Dengan ini sebagai menyahut anjakan paradigma dalam perkembangan pendidikan 
geografi masa kini, kelestarian penggunaan ICT secara terancang, bersesuaian dan berfikrah 
adalah amat diperlukan untuk meningkatkan kecekapan proses dan keberkesanan pengajaran 
pembelajaran geografi di sekolah. Untuk ini guru dan pengamal geografi perlu memainkan 
peranan masing-masing dalam melengkapi diri dengan pelbagai kemahiran dan pengetahuan 
termasuk pedagogi dan kemahiran memilih perisian ICT demi meningkatkan kualiti pengajaran pembelajaran Geografi di Sekolah.

Dapatkan Kertas Kerja penuh di sini >>> Kertas Kerja dan Tentatif Aturcara Seminar

Sunday, September 22, 2013

Jerebu: Bukan Sekadar Musibah Sebaliknya Tersembunyi Hikmah

Ditulis oleh Pegawai Penyelidik IKIM. Utusan Malaysia

Serangan jerebu yang melanda Negara sejak tiga minggu lepas seolah-olah mengulangi kembali peristiwa jerebu pada tahun 1997 apabila Indeks Pencemaran Udara (IPU) tertinggi yang dicatatkan adalah mencecah 750 dan jarak penglihatan yang tinggal adalah kira-kira 50 meter sahaja. Sebagaimana lazim, punca jerebu pada kali ini juga adalah akibat daripada kebakaran ladang dan hutan yang berlaku di negara jiran kita iaitu di Wilayah Riau, Indonesia. Pada kali ini, Singapura juga tidak terkecuali merasai bahang daripada jerebu yang tercetus.

Ancaman jerebu yang berlaku sedikit sebanyak telah membangkitkan rasa tidak puas hati dalam kalangan rakyat Malaysia dan Singapura kerana sesak nafas dek terpaksa menyedut asap yang dibawa dari negara terbabit. Apatah lagi, akibat daripada jerebu yang telah dicetuskan, ia turut menjejaskan aktiviti seharian yang boleh merugikan kedua-dua negara yang terlibat. Lebih buruk lagi apabila masing-masing saling tuding-menuding menyalahkan antara satu sama lain. Keadaan ini pastinya boleh mengundang berlakunya ketegangan dalam hubungan dua hala antara negara-negara yang terlibat jika tiada langkah sewajarnya diambil untuk membolehkan masalah jerebu diselesaikan dengan baik.

Seharusnya dalam situasi yang berlaku ini, sikap suka menyalahkan antara satu sama lain perlu dielakkan sama sekali. Lebih-lebih lagi pabila ia melibatkan negara serumpun yang pastinya saling memerlukan antara satu sama lain dalam merencana perancangan  pembangunan pada masa hadapan, serta melibatkan negara yang dihuni oleh rakyat yang majoritinya beragama Islam. Sebaliknya, setiap daripada kita perlu memandang musibah yang berlaku dari sudut positif iaitu sebagai ujian daripada Allah SWT yang memberi peluang untuk kita belajar sesuatu bagi memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Setidak-tidaknya dengan peringatan dan ujian Allah SWT, ia akan menyedarkan kita daripada terus lalai dan alpa dalam setiap tindak tanduk kita selaku khalifah di atas muka bumi.

Ia bertepatan dengan firman Allah SWT yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil, berbuat kebaikan, serta memberi  bantuan kepada kaum kerabat; dan Allah melarang daripada perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran" (Surah an-Nahl, 16: 90).

Sememangnya tidak dinafikan bahawa jerebu yang dialami begitu merimaskan rata-rata kita sehingga telah membantutkan segala percaturan aktiviti yang telah dirancang dan menjejaskan kesihatan segelintir kita. Namun demikian, sebagaimana yang dinukilkan di dalam ayat di atas, setiap musibah yang berlaku pasti mengandungi hikmah yang tersembunyi yang tidak kita sedari. Misalnya, dalam konteks jerebu yang sering rata-rata kita pandang dari sudut negatif sebenarnya terkandung banyak kebaikan yang tersirat disebaliknya.

Antaranya, sesekali apabila diuji dengan jerebu yang menyesakkan nafas, pastinya ia akan menerbitkan rasa syukur yang tidak terhingga dalam diri kita dengan nikmat udara bersih dan segar yang dihirup selama ini. Jika sepanjang kehidupan, kita hanya menyedut udara tanpa pernah memikirkan betapa nikmat udara merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan kita, pastinya mulai saat ini kita akan lebih menghargai nikmat udara bersih yang kita kecapi. Apabila timbulnya kesedaran serta keinsafan mengenai perkara ini, pastinya ia dapat mendorong kita supaya lebih bertanggungjawab terhadap alam sekitar dan tidak sewenang-wenangnya melakukan aktiviti-aktiviti tidak sihat yang boleh mencemarkan udara seperti pembakaran terbuka dan sebagainya.

Seterusnya, pelajaran yang boleh kita ambil daripada dugaan jerebu ini adalah untuk kita muhasabah diri dan merenung kembali setiap perlakuan kita terhadap alam sama ada ia baik atau pun buruk. Sesungguhnya, dalam setiap inci musibah yang berlaku pastinya sedikit sebanyak adalah bertitik tolak daripada kesilapan dan kealpaan kita sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud:"Telah timbul berbagai kerosakan dan bala bencana di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat) (Surah ar-Rum, 30: 41).

Justeru, dalam situasi jerebu yang melanda, setiap negara yang terlibat seharusnya tidak beremosi menuding jari sesama sendiri. Sebaliknya, pendekatan yang lebih berhemah perlu diambil agar tidak memburukkan lagi keadaan. Umpamanya, perbincangan perlu dilakukan antara ketiga-tiga negara bagi memperoleh penyelesaian terbaik untuk menghentikan jerebu yang melanda dan mencari jalan
bagi mengelakkan perkara seumpama ini daripada berulang. Ini memandangkan, kebakaran hutan yang berlaku di negara jiran kita, Indonesia bukanlah kali pertama. Malah, ia kerap kali berlaku sehingga negara jiran yang lain turut terkesan.

Dengan tercetusnya jerebu, setidak-tidaknya ia membuka ruang untuk setiap negara yang terlibat memikirkan perancangan teliti yang perlu dilaksanakan secara bersama bagi membendung permasalahan ini agar ia tidak menyerang lagi pada masa akan datang. Dalam aspek ini, jika kita memandang sesuatu musibah dari sudut positif, maka pengakhirannya juga akan jadi positif. Dalam erti kata lain, jika ketiga-tiga negara yang terlibat memandang serangan jerebu sebagai suatu ujian yang membuka peluang positif untuk mengeratkan lagi hubungan sesama sendiri, maka pertikaian sama sekali tidak akan berlaku. Malahan, usaha secara bersama dan sikap saling bantu membantu dalam menangani masalah jerebu seperti usaha pembenihan awan dan sebagainya akan lebih merapatkan lagi hubungan sesama negara serumpun.

Dalam menghadapi serangan jerebu, ia merupakan ruang terbaik untuk masing-masing muhasabah diri bahawa kita hanyalah makhluk yang lemah dan tidak sempurna. Sebagai manusia biasa pastinya kita tidak terlepas daripada melakukan kesilapan. Apa yang penting, kita bersedia belajar daripada setiap kesilapan yang lepas untuk menjadi insan yang lebih baik. Oleh yang demikian, sama-samalah kita mengambil pengajaran daripada ujian jerebu ini dari sudut yang positif yakni tersembunyi hikmah di sebaliknya agar kita mampu melakukan transformasi diri dengan lebih ikhlas. Sesungguhnya, terdapat kebaikan yang sering kita lupa dan abaikan di sebalik setiap musibah yang menimpa.

Firman Allah dalam surah al-Baqarah ada mengaitkan mengenai apa yang manusia sangka baik, mungkin buruk bagi diri mereka. Manakala, apa yang mereka sangka buruk, maka baik bagi mereka sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: "...dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah yang mengetahui(semua itu), sedangkan kamu tidak mengetahuinya"(Surah al-Baqarah, 2: 216).

Bencana Jerebu Sebagai Tanda Kealpaan Manusia


Ditulis oleh Azrina Binti Sobian. Posted in Berita Harian



Bulan Jun merupakan bulan yang istimewa bagi meraikan alam sekitar kita. Pada 5 Jun 2013, Hari Alam Sekitar Sedunia disambut. Tema sambutan bagi tahun ini ialah "Think, Eat and Save." Tema ini ringkas tapi penuh makna. Namun ironinya, bulan yang penuh makna bagi alam sekitar ini disambut penuh "berjerebu" oleh warga Malaysia. Dalam keadaan ini, elok juga kita meluangkan sedikit masa untuk memikirkan tentang masalah tersebut, seperti mana yang dianjurkan dalam tema sambutan Hari Alam Sekitar Sedunia tahun ini, sebagai satu usaha muhasabah diri.

Di dalam al-Quran, terdapat banyak ayat-ayat yang mengajak manusia untuk berfikir, memerhati serta melakukan pengamatan. Antaranya, di dalam surah ar-Ruum (30), ayat 24; surah ar-Ra'd (13), ayat 3 dan surah al-Jaathiyah (45), ayat 5. Sesungguhnya, akal anugerah Ilahi bukan satu perhiasan tetapi perlu digunakan semaksimum mungkin, apatah lagi menggunakan akal untuk muhasabah diri demi berhadapan dengan bencana alam ketika ini.

Masalah jerebu yang berlaku memberi terlalu banyak pengajaran dan peringatan kepada manusia yang mahu berfikir. Salah satunya adalah tentang sikap manusia. Mereka yang tidak peduli akhirnya menyebabkan kerosakan demi kerosakan kepada alam. Kata orang, "berani buat, beranilah tanggung." Jadi, manusia membakar hutan, maka manusialah yang menanggung akibat tingkah laku jahil tersebut. Ini bertepatan dengan janji Allah SWT bahawa manusia yang melakukan kerosakan, akan merasakan kesan daripada perbuatan tangannya (ar-Rum, 30: 14). Namun malangnya, mereka yang tidak bersalah turut sama "dipaksa menikmati" kesan tersebut.

Selain sikap, masalah jerebu yang berulang-ulang sejak tahun 1997 ini, menunjukkan betapa rendahnya pengetahuan manusia terhadap peranannya di dalam alam yang serba luas ini serta tidak memahami peranan setiap entiti alam yang diciptakan oleh Allah SWT. Sememangnya, perkembangan sains dan teknologi yang pesat telah banyak membantu manusia memahami peranannya serta peranan sumber alam. Namun, kenapa manusia masih mengganggu-gugat persekitarannya? Ini kerana, pengetahuan berdasarkan perkembangan sains dan teknologi tidak dapat menyemarakkan hikmah dan hemah dalam jiwa manusia semasa berinteraksi dengan persekitarannya.

Oleh itu, menyemarakkan hikmah dan hemah dalam diri manusia perlu dengan menambah ilmu agama ke dalam jiwa tersebut. Ini kerana, ilmu agama membuka mata manusia untuk memahami peranannya sebagai khalifah, tanggungjawab atau amanah, menerima konsep keadilan dalam interaksi dengan alam, konsep mizan (kesetaraan), tawazun (keseimbangan), jamal (indah) dan sebagainya. Manusia yang benar-benar faham tentang konsep-konsep ini pasti tidak tergamak melakukan kemusnahan alam kerana dia tahu bahawa tindakannya itu akan disoal dan diperhitungkan di hadapan Yang Maha Esa.

Tidak ketinggalan juga kegagalan manusia memahami konsep pencemaran merentas sempadan. Selalunya, kita hanya melihat kepada masalah-masalah alam sekitar tempatan. Misalnya, masalah sampah, penebangan hutan, tanah runtuh dan sebagainya. Ini merupakan satu pengetahuan yang terhad. Dalam keadaan dunia masa kini, pengetahuan terhadap masalah alam sekitar bersifat global atau merentasi sempadan amat penting dan kritikal. Hakikatnya, kita berkongsi alam ini dengan orang lain, di dalam mahupun di luar negara. Oleh itu, kerosakan sumber alam yang dilakukan di satu tempat akan memberi kesan kepada tempat yang lain, sama ada tempat itu di Malaysia mahupun jauh di negara orang. Oleh itu, ahli masyarakat perlu diberikan kesedaran dan pengetahuan tentang masalah alam sekitar sejagat.

Oleh sebab kita semua berkongsi alam atau bumi yang sama, maka penyelesaian terhadap permasalahan ekologi itu memerlukan kerjasama yang utuh. Dalam banyak keadaan, kita suka menyalahkan orang lain terhadap apa yang terjadi. Memanglah mudah dan mungkin menyeronokkan apabila menuding jari, namun ini tidak akan menyelesaikan apa-apa masalah malah boleh menimbulkan ketegangan. Masalah jerebu yang melibatkan tiga negara di rantau Asia Tenggara ini perlu diselesaikan dengan semangat setia kawan. Negara-negara dalam rantau ini adalah berjiran dan memuliakan jiran merupakan satu tuntutan dalam Islam. Kesudian untuk bekerjasama juga merupakan satu usaha memuliakan jiran. Jika kita gagal bekerjasama dalam semangat serantau, maka bagaimanakah pula kita hendak bekerjasama dalam menangani permasalahan alam sekitar global misalnya masalah pemanasan dunia?

Penjelasan-penjelasan di atas hanya dapat difahami jika kita mahu berfikir atau bermuhasabah diri dalam menghadapi keadaan persekitaran yang tercemar kini. Apabila berlakunya sesuatu bencana seperti jerebu, kita boleh melihatnya dalam konteks hukuman Allah SWT terhadap manusia yang lalai. Ini mengingatkan kita tentang apa yang diceritakan di dalam surah al-Dukhan (ayat 9-16) tentang kaum Quraisy yang menentang serta memain-mainkan risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Akibat kekufuran ini, kaum tersebut ditimpa bencana kemarau yang panjang sehingga mereka melihat asap antara langit dan bumi. Asap itu sungguh tebal hingga menyebabkan mereka tidak nampak rupa paras masing-masing apabila berbicara sesama sendiri. Dalam konteks ini, bencana asap itu merupakan satu hukuman terhadap sikap masyarakat Quraisy yang terus-terusan kufur kepada Allah SWT.

Dalam masa yang sama, bencana yang berlaku itu juga boleh dilihat dari sudut yang lain iaitu untuk menyedarkan dan membangkitkan manusia dari kealpaannya. Hakikatnya, manusia biasa seperti kita semua mudah lupa dan sering melakukan kesilapan. Oleh itu, kita perlu sentiasa diingatkan agar dapat kembali ke jalan yang benar. Oleh itu, perlulah kita berlapang dada menerima dugaan ini dan berusaha ke arah kebaikan.

Walau bagaimanapun, orang tua-tua berkata, apabila kita melakukan satu-satu kesilapan untuk kali pertama, maka itu dikatakan kelemahan diri. Namun, jika kesilapan yang sama diulang berkali-kali, maka itu tanda kebodohan diri. Jadi, jangan biarkan masalah jerebu berulang kembali kerana ini menunjukkan betapa kita berulang-ulang melakukan kesilapan yang sama. Apakah maksudnya di sini? Tepuk dada tanyalah selera!

Thursday, September 12, 2013

Buku Pemeliharaan & Pemuliharaan Hutan Hujan Tropika

Pemeliharaan & Pemuliharaan Hutan Hujan Tropika
Penulis: Masitah Mohammad Yusof, Azizi Muda & Khaidir Alias
Harga: RM50.00

RAKAN ALAM SEKITAR


Latarbelakang

Kementerian Sumber Asli dan Alam Sekitar telah mengambil inisiatif merangka satu program baru iaitu Rakan Alam Sekitar yang dibentuk bagi meningkatkan kesedaran dan menggerakkan anggota masyarakat di setiap kawasan Parlimen dalam aktiviti pemeliharaan dan pemuliharaan alam sekitar serta membantu membanteras kegiatan-kegiatan yang merosakkan dan mencemarkan alam sekitar.
Pogram RAS adalah berbentuk ‘community based’ dan ‘hands-on’; melibatkan penduduk setempat termasuklah generasi muda dan dewasa, NGOs serta juga pihak-pihak industri atau swasta tempatan. Ianya merupakan satu program out-reach yang dijalankan mengikut kawasan Parlimen.
Rakan Alam Sekitar adalah saluran yang tepat untuk meningkatkan keberkesanan aduan kerana dengan penglibatan masyarakat tindakan yang segera dapat diambil sewajarnya oleh agensi kerajaan yang berkenaan.
Majlis Pelancaran Rakan Alam Sekitar peringkat Kebangsaan telah diadakan dengan jayanya pada 4 Jun 2009 bersempena dengan World Environment Day 2009 yang telah disempurnakan oleh Y.A.B Timbalan Perdana Menteri bertempat di Dewan Jubli Intan Sultan Ibrahim, Muar, Johor.

Objektif

Objektif Rakan Alam Sekitar adalah:
  1. Memberikan kesedaran alam sekitar di setiap lapisan masyarakat.
  2. Menanamkan rasa tanggungjawab di kalangan masyarakat untuk bertindak dan mengambil bahagian dalam menjaga alam sekitar yang dikongsi bersama.
  3. Menyediakan saluran yang tepat bagi masyarakat membuat aduan atau pandangan mengenai alam sekitar kepada agensi-agensi kerajaan berkenaan.

Konsep

Penerangan Logo / Simbol
Harmoni simbol Bumi, Manusia dan ekosistem dalam setitik embun yang melambangkan alam sekitar lestari adalah tonggak program. Warna Biru melambangkan kedamaian.
Simbol Warga
Keluarga/Masyarakat
Peranan unit keluarga/masyarakat yang bersatu padu dalam usaha memelihara dan memulihara alam sekitar.
Dedaun
Dedaun
Dedaun dalam dwi-warna hijau melambangkan ekosistem dan kesegaran flora.
Jalinan Pelangi
Jalinan Pelangi
Jalinan warna-warni pelangi melambangkan keceriaan alam maya dan kesejahteraan hidup.
Nama Kelab
Nama Kelab
Nama program melambangkan ketegasan bagi merealisasikan program.

Ikrar RAS

Ikrar :
Bahawa Kami Ahli Rakan Alam Sekitar
Membuat Ikrar Di Sini
Akan Menjalankan
Tugas- Tugas Sukarelawan Ini
Dengan Sepenuh Hati
Ke Arah ini Kami Akan :-
Menjadi Mata Dan Telinga
Kepada Agensi-Agensi Kerajaan Yang Bertanggungjawab
Dalam Membenteras Kegiatan-Kegiatan Yang Merosakkan
Atau Mencemarkan Alam Sekitar 5
Kami juga Akan Menjadi Penggerak Utama
Kepada Program- Program Serta Kempen- Kempen
Kesedaran Alam Sekitar Di Kawasan Kami
Untuk Memberikan Kesedaran Alam Sekitar
Kepada Semua Lapisan Masyarakat,
Untuk Bertindak Dan Mengambil Bahagian
Menjaga Alam Sekitar
Yang Kita Kongsi Bersama ini
Semoga Tuhan Memberkati Usaha Ini

Golongan Sasaran

Golongan sasaran :
  1. Pemimpin masyarakat
  2. Penduduk setempat
  3. NGOs
  4. Sektor swasta
  5. Ahli-ahli akademik
  6. Golongan belia
  7. Pelajar-pelajar sekolah dan universiti

Program/Aktiviti RAS

Aktiviti-aktiviti Rakan Alam Sekitar meliputi pelaporan kes-kes pencemaran dan kerosakan alam sekitar kepada agensi-agensi kerajaan yang bertanggungjawab untuk tindakan, program mencegah dan mengawal pencemaran, memperindahkan kualiti alam sekitar (the enhancement of environment) dan kempen pendidikan dan kesedaran alam sekitar.
Antara program/ aktiviti Rakan Alam Sekitar yang telah dijalankan ialah aktiviti pemantauan pencemaran, pembersihan pantai, kitar semula buangan, pengkomposan, penanaman pokok, pemuliharaan air tasik dan tanah gambut, River Ranger dan lain-lain.